http://makhdor.blogspot.comBersyukurlah anda jika anda suka membaca, atau menulis, atau keduanya. Bersyukurlah jika anda doyan belajar. Karena ternyata kegiatan-kegiatan yang harusnya “biasa” ini, sampai saat ini menjadi kegiatan yang “istimewa” terutama di kalangan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Tentu saya tidak mengatakan bahwa kegiatan ini tidak diperlukan dalam keseharian seorang karyawan, pengusaha, bahkan seorang yang tidak bekerja sekalipun wajib hukumnya membaca atau belajar.
Suatu hari tanpa disengaja saya melihat poster Seminar Pumping Sudent, yang setelah saya telusuri sumbernya di Internet, sebenarnya memiliki tujuan mulia untuk memompa semangat pelajar untuk lebih bisa sukses dalam kegiatan belajarnya, bagaimana sukses dalam ujian nasional misalnya.
Dimotori oleh seorang motivator bernama Amir Tengku Ramly, dengan lembaganya yaitu Pumping Learning Centre yang berkantor di Gedung PPIB Bogor (dekat masjid raya), lembaga ini tampaknya serius untuk dapat memotivasi para stakeholder pendidikan, tidak hanya siswa, tapi juga guru, mahasiswa, dan pemuda.
Kusus untuk guru, misalnya, ada program yang disebut pumping teacher, menjadi guru epos. Program ini ditujukan memperbaiki hubungan antara siswa dan guru berdasarkan energi positif dan kuadran guru kaya. Guru sebaiknya suka belajar, menulis, menikmati karya seni, mengamati tanda-tanda alam, membangun dan memelihara relasi dengan sebaik-baiknya. Kalau saya tambahkan dari petunjuknya mas Al Falaq Arsendatama, biasakan berpikir beda dan tidak menyerah dalam mempelajari hal-hal baru meskipun terasa sangat rumit.
Ada tulisan yang menurut saya cukup revolusioner untuk dilaksanakan di kelas, yaitu tulisan mas Aris Wahyu Prasetyo tentang “Desain Anak: Inovatifnya Pembelajaran” di http://public.kompasiana.com yang intinya memberi ide segar untuk memanfaatkan iklan, misalnya, untuk dijadikan sarana pembelajaran. Saya sependapat dengan mas Wahyu, bahkan pernah saya bayangkan ada pelajaran “analisa media” di dalam kelas, yang membahas tentang isu apa saja yang ada di koran atau majalah (termasuk berita musik, film, sinetron, bahkan gosip) dan bagaimana para murid memanfaatkan semua informasi tersebut menjadi sesuatu yang berguna.
Secara umum nampaknya pelatihan ini tidak beda jauh dengan pelatihan ESQ. Ada istilah-istilah “fresh” yang diciptakan dan diberi pemaknaan menggunakan ilmu manajemen modern kususnya ilmu pengembangan diri. Memang kalau kita lihat di toko buku, misalnya, buku-buku pengembangan diri selalu saja menempati ranking teratas dalam penjualan. Mungkin orang haus akan nasehat dan inspirasi yang dapat membuatnya termotivasi untuk tujuan hidupnya masing-masing.
Contoh ada kalimat dalam suatu tulisan Orbit Sukses Manusia di http://senyum127.blogspot.com menyatakan bahwa : “Membangun orbit sukses dan hidup lebih bermakna adalah upaya memberdayakan tiga kekuatan sukses (principle power, competence power dan action power) sesuai corevalues ketauhidan (Ihsan), rukun Iman dan rukun Islam yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan focus pada orbit sukses diri pribadi”.
Seorang siswa kelas IX, warga Babakan Ciparay Bandung ditemukan tewas gantung diri. Dan berita serupa juga sempat kita dengar beberapa waktu sebelumnya. Banyak yang bilang anak-anak jaman sekarang memiliki mental yang rapuh. Dan memang saya sangat sayangkan mengapa sekolah tidak mengajarkan “bagaimana cara berpikir”, sekolah hanya mengajarkan “apa yang harus dipikir”. Menjadi tugas gurulah untuk juga membantu pembangunan mental anak-anak didiknya.
Contoh, Imam Syafi’i pernah menasehatkan kita melalui kisahnya masa menjadi pelajar, tentang keadaan hafalannya yang jelek. Lalu oleh Imam Waqi’, gurunya, diberikan nasehat “Ketauhilah, sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat”. Dan mungkin ada deretan resep mujarab lainnya yang dapat diberikan pada siswa, mahasiswa, pemuda atau siapapun yang berstatus sebagai penuntut ilmu.
Kabar dari Wellington, seorang mahasiswa 18 tahun bernama Owen Thor Walker akhirnya direkrut oleh Telstra Selandia Baru, setelah sebelumnya berhasil membobol jutaan komputer dengan kerugian potensial mencapai 20 juta US$. Jika sistem hukum berpikir sempit, anak muda ini akan langsung dijebloskan ke penjara, namun sistem pendidikan modern yang lebih menghargai potensi manusia lah yang lebih dipentingkan. Akhirnya Owen bebas dan mendapatkan pekerjaan sebagai ladang kreativitasnya.
Kembali ke tema Pumping, bahkan untuk tersenyum pun diajarkan oleh mas Amir Tengku. Dinamakannya senyum 127, yang maksudnya adalah senyum yang memiliki akar kuat, bersumber dari 1 hati nurani, lebar 2 cm ke kanan dan ke kiri, dengan durasi 7 detik saja. Senyum gaya ini diklaim mampu menghasilkan energi positif yang akan mengalahkan energi negatif di sekitarnya.
Senyum ini pulalah yang diharapkan dapat dipraktekkan para guru ketika mengajar di sekolah. Entahlah kenapa saya tidak terlalu setuju jika guru terlalu ramah dengan para muridnya, karena murid ada saja yang semakin parah kelakuannya karena melihat gurunya sangat baik, yang biasanya dimaknai sebagai guru yang sangat toleran dalam segala hal.
Guru juga harus diharuskan untuk tidak saja memperhatikan anak didiknya yang belajar, tapi dia sendiri juga harus mengembangkan dirinya dengan cara belajar pula. Ilmu ini harus diamalkan. Jika niat ini tidak ada, akan diharamkan baginya keberkahan ilmu, kemuliaan dan pahalanya. Nabi bersabda bahwa “Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar” (HR. Thabrani. Muhaddits abad ini, Muhammad Nashiruddin Albani) .
Mungkin perlu ada pengembangan ilmu pumping motivasi semacam ini untuk pegawai negeri khususnya aparat Pemda, agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi. Ada isu di suatu daerah mengalami kekuranga pegawai, di sisi lain ada daerah yang justru ditengarai kelebihan pegawai. Pemda Kuningan, misalnya, diidentifikasi kelebihan 4 ribu pegawai, yang akibatnya 80% APBD habis hanya untuk gaji dan belanja pegawai.
Terlepas dari kebenaran data di atas, yang saya cuplik dari suatu kolom di suatu harian di Bandung, kelebihan jumlah pegawai ini harus disikapi sebagai kesempatan untuk lebih baik lagi dalam menerjemahkan dan menjalankan semua kebijakan daerah sampai ke desa-desa terpencil di Kuningan. Bagaimana caranya ? Nah, ini membutuhkan kreativitas dan kemauan dari para aparat tersebut. Saya cenderung menginginkan para aparat Pemda bersikap sebagai “guru” bagi masyarakat, sehingga dalam peta peran dan sikapnya baik dalam implementasi proyek apapun terkait pembangunan di daerah, mereka mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, memberi teladan dan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar sejati yang peduli dengan obyek pembangunan.
Pertanyaan saya, apa ada pejabat atau pegawai Pemda yang jago mengurusi musium yang ada di daerah kerjanya ? Contoh perpustakaan museum sejarah Jakarta, dimana dari sini sebenarnya banyak yang dapat dieksplore dan disosialisasikan kepada para anak didik terutama di Jakarta, agar mereka tidak hanya tahu tentang sebaran mall di ibukota negara, tapi juga tahu detail tentang sejarah kotanya.
Tentu saja sudah ada pelaksana teknis dari Pemda yang ditunjuk menanganinya, tapi maksud saya adalah bagaimana membuat sejarah menjadi sesuatu isu yang menarik baik dari sisi pendidikan maupun peluang dalam pariwisata. Kalimat “Jakarta akan kehilangan ruhnya ketika seluruh warisan nenek moyangnya hilang” mungkin tidak banyak dipahami orang yang tidak pernah merenungkan apa yang disebut kehidupan sejati dengan manusia utuh (jasmani dan rohani) yang menjadi subyek utama.
Mengikutsertakan dunia pendidikan dalam program pemerintah secara langsung juga merupakan salah satu cara untuk melejitkan lagi potensi anak didik. Seperti upaya Mahkamah Institusi megikutsertakan 34 Fakultas Hukum di seluruh Indonesia untuk membantu sidang sengketa hasil pemilu nanti. Saya kadang bertanya, mengapa tidak melakukan hal serupa untuk sidang korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di daerah, sehingga penuntasan perkara dapat lebih cepat dan tidak menumpuk seperti sekarang ini yang akhirnya menyebabkan munculnya sistem tebang pilih dalam perkara korupsi.
Saat ini, guru disibukkan tentang pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sertifikasi guru. Guru-guru sibuk menyiapkan persyaratan dalam proses sertifikasi. Sertifikasi dilakukan dalam kerangka perbaikan kualitas pendidikan dan menjaring guru kaya dan profesional. Upaya itu juga untuk mendapatkan kesejahteraan memadai sehingga harkat dan martabat guru terangkat. Perbaikan itu dimulai dari standar nilai Ujian Nasional (UN) SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan tahun depan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD).
Bersamaan harapan tersebut diperlukan tiga faktor penting. Pertama, hardware -- perangkat keras berkaitan dengan sarana prasarana seperti : lab. bahasa, IPA, komputer, perpustakaan, kesenian, olahraga dan lainnya. Kedua, software --- perangkat lunak, seperti : kurikulum, program pelajaran. Ketiga, man --- sumberdaya manusia seperti: guru, kepala sekolah, tata usaha, serta pengelola pendidikan lainnya.
Ketiga komponen tersebut, menentukan maju mundur pendidikan. Bersamaan dengan itu, melalui Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berteriak agar anggaran 20 persen dipenuhi. Para guru mendesak pemerintah untuk segera memenuhi amanah UU demi perbaikan kualitas pendidikan. Tulisan ini penulis fokuskan pada sertifikasi guru kaya dan profesional untuk memperbaiki mutu pendidikan. Kaya dalam tulisan ini terkait dengan kualitas, profesionalisme dan komitmen terhadap profesi.
Guru kaya Guru (baca, pendidik) merupakan profesi mulia dan terhormat, yang digugu dan ditiru. Guru memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup besar. Dengan demikian guru dapat menjalankan sistem pendidikan yang berlangsung seumur hidup (long life education). Aktivitas itu merupakan usaha sadar untuk merangsang berkembangnya aspek kognitif, afektif dan psikomotoris peserta didik secara maksimal. Untuk memaksimalkan tugas dan peran tersebut dibutuhkan guru kaya.
Guru kaya adalah guru yang memiliki kepribadian sejati dan kecakapan profesi. Kepribadian sejati sang guru didukung mentalitas, moralitas dan spiritualitas yang kuat. Dikatakan memiliki mentalitas pribadi yang kuat, bila selalu bersikap jujur, meyakini nilai-nilai, memegang teguh komitmen serta selalu meyakini bahwa kehidupan menyediakan segala sesuatu dalam porsi yang melimpah orang. Sedangkan kecakapan profesi ditentukan kemampuan personifikasi. Dikatakan memiliki kemampuan personifikasi bila mampu memotret pribadi peserta/orang lain yang diimbangi oleh pribadi yang memiliki pengetahuan, hasrat dan latihan. Kecakapan profesi diperoleh bila kecapakan yang dimiliki dilengkapi kecakapan akademis, intuitif dan rasa (Amir Tengku Ramli dan Erlin Trisulianti, 2003:8-10).
Guru memiliki tugas utama dalam proses belajar mengajar memainkan peran utama. Rangkaian peran pendidik dan peserta didik dilandasi relasi mutualis untuk mencapai tujuan pendidikan. Melahirkan manusia Indonesia seutuhnya yang intinya memiliki panduan kecerdasan intelektual (intellegence question), kecerdasan emosional (emosional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Untuk menggapai tujuan itu guru menggunakan pendekatan metode pembelajaran yang berbasis pengenalan kepribadian sejati, kecakapan profesi dan kemampuan membuka, menata dan memanfaatkan kebeningan hati nurani.
Yang jelas, guru kaya diharapkan melahirkan pelajar kaya yang memiliki seperangkat ilmu, iman dan amal shaleh. Di tengah kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) pendidik dan peserta harus sama-sama memiliki kekuatan iman dan ilmu yang handal. Guru harus kreatif, inovatif dan proaktif merebut dan memanfaatkan sekecil apa pun peluang yang ada. Untuk mengatasi persoalan pendidikan yang kompleks diperlukan guru kaya. Guru yang menjalankan tugas keprofesionalannya dapat menciptakan serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan dengan kemajuan tingkah dan perkembangan siswa untuk mencapai tujuannya.
Menurut Tengku Ramli dan Trisulianti (2003:17-18) menulis bahwa guru kaya adalah guru yang memiliki tabungan kebaikan yang melimpah, menjadikan profesinya sebagai investasi jangka panjang dengan memberikan bekal ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan bagi kebaikan-kebaikan generasi mendatang. Guru kaya tidak terjebak pada motivasi jangka pendek yang mengedepankan to have (keinginan memiliki), tetapi mengejar tujuan jangka panjang dengan mengedepankan to be (keinginan menjadi). Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar dan melatih, menilai, mengevaluasi dan menata proses belajar mengajar. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Tugas guru khususnya dalam bidang kemanusiaan di sekolah dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua (Moh. Uzer Usman, 2004:7).
Tugas guru selanjutnya adalah menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan sebagai upaya memperbaiki kualitasnya. Guru yang profesional adalah guru yang melakukan proses belajar sebagai sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu.
Sang rasul pembangunan Kebutuhan sertifikasi guru sekarang disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Sertifikasi pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Guru yang lulus sertifikasi memperoleh hak (baca, gaji) atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penghasilan guru secara finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesionalan yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru sebagai pendidik profesional. Melalui sertifikasi itu guru memperoleh penghargaan sepantasnya. Guru yang memenuhi syarat harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Setelah pengesahan Undang-Undang guru dan dosen, profesi si Oemar Bakri-nya Iwan Fals memberikan gairah baru bagi generasi muda untuk mengambil profesi itu. Kemauan pemerintah memperbaiki kesejahteraan guru dan kemudahan pengangkatan mereka memberikan angin segar akan profesi yang satu ini. Tuntutan perbaikan guru sebagai rasul pembangunan ala Soekarno, atau sering dininabobokan dengan sebutan sang pahlawan tanpa tanda jasa jika tidak diikuti kesejahteraan tidak ada artinya. Selama ini, profesi guru memang kurang mendapat perhatian serius terkait kesejahteraan dan anggaran pendidikan. Adanya proses sertifikasi ini merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat guru. Pendidik sebagai proses untuk mencapai sesuatu yang lebih langgeng, lebih berarti dan berisi bagi hidup dan masa depan dirinya dan peserta didik. Pendidikan sebagai diamanahkan UUD 1945 yaitu memajukan, mencerdaskan dan mencerahkan anak bangsa ini.
Guru seyogyanya sejahtera, bukan seperti kata Anand Krisna “guru harus berani miskin”. Jika ingin kaya. Dia seharusnya menjadi pengusaha dan memperkaya diri lewat pendidikan, hal itu menghianati pendidikan itu sendiri”. Akibat minimnya kesejahteraan guru mempengaruhi generasi muda memilih profesi yang terhormat itu. Penelitian suatu media massa tentang profesi idaman pelajar SMU di beberapa daerah di Indonesia menyebutkan bahwa profesi pengusaha tertinggi sekitar 56,3 persen, sementara profesi guru/dosen sekitar 1,5 persen dan profesi ustadz atau tokoh agama hanya 0,7 persen. Profesi guru merupakan profesi di persimpangan jalan. Guru merupakan salah satu faktor pendukung pendidikan. Ketulusan dan keihlasan guru menjalankan misi sosial sebagai misi kemanusiaannya sangat penting. Misi yang dijalankan sebagai panggilan hati nurani. Guru adalah seorang pencerah zaman. Guru ideal memiliki kepribadian tangguh menghadapi tantangan. Semoga misi mencerdaskan anak bangsa, tugas mulia agar dapat berjalan mulus.
----------------------------------- Penulis adalah guru dan alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Oleh : Iwan Kurniawan*) Sumber: http://onechoise.blogspot.com
Sekilah Lingga Masa Lampau
Kabupaten Lingga adalah Kabupaten yang mempunyai luas daerah 211.772 Km2. Daerah dengan wilayah yang terdiri dari banyak pulau ini (377 pulau besar dan kecil) mempunyai penduduk yang mayoritas beragama Islam dengan etnis Melayu sebagai suku mayoritas. Pertengahan tahun 2003 daerah ini masih tergabung dalam Kabupaten Kepulauan Riau dengan Tanjung Pinang sebagai Ibu Kota Kabupaten. Pada tanggal 18 Desember 2003, daerah ini resmi menjadi kabupaten dengan dikeluarkannya UU No. 31 Tahun 2003 dengan nama Kabupaten Lingga.
Jika dipandang dari segi religius-kultural, Kabupaten Lingga dengan suku Melayu sebagai suku mayoritas sangat erat sekali hubungannya dengan Islam. Sejak dahulu, sejarah telah mencatat bahwa tokoh-tokoh Melayu yang ternama adalah seorang muslim yang kuat memegang agama. Nama pembesar yang sering dipakai adalah nama dengan akar kata berasal dari bahasa Arab. Kita kenal Sultan Mahmud, Raja Haji, Sultan Ahmad Riayat Syah dan sebagainya. Bukti lain adalah adanya tulisan “Arab-Melayu”, yaitu tulisan Arab tetapi dapat dibaca dengan karakter bahasa melayu. Dengan realitas akar budaya yang demikian, maka Melayu-Lingga sebenarnya mempunyai akar kebudayaan yang tinggi dengan perpaduan antara ketinggian ajaran Islam dengan keluhuran budaya Melayu. Dalam hal karya sastra, daerah ini juga sudah mempunyai prestasi yang luar biasa yang menandakan bahwa peradabannya sudah sedemikian maju sejak zaman kerajaan. Kita mengenal karya Raja Ali Haji yaitu Gurindam Dua Belas yang merupakan falsafah tunjuk ajar orang Melayu, kita juga mengenal adanya pantun dan syair melayu.
Salah satu hal yang tidak luput dari realitas perkembangan kehidupan rakyat Lingga adalah kondisi pendidikannya. Kondisi pendidikan Lingga jika kita melihat dari akar sejarahnya, maka perkembangannya memang lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Pendidikan agama sangat pekat bertahta di dalam pendidikan masyarakat Lingga masa lampau, sebelum adanya pendidikan formal seperti sekarang. Sampai saat ini kita masih mengenal istilah “madrasah” yang merupakan bentuk sekolah formal yang pernah dikembangkan di Lingga. Diantara madrasah yang pernah ada adalah madrasah mu’allimin al-arbiyah yang didirikan oleh Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad (tahun 1930-an) dan Madrasah Iqbal al-Islamiyah yang didirikan oleh tokoh cendikiawan Melayu Raja Ali Kelana bersama Syaikh Jalaluddin Taher. Selain pendidikan formal, di masyarakat juga berkembang pendidikan nonformal dalam bentuk halaqoh ilmu sehingga kita mengenal pendidikan dengan tingkatan pengajaran alif-ba-ta dan tingkat alif-lam-mim atau surat besar. Dengan demikian kita mengetahui bahwa sejak dulu perkembangan pendidikan di Lingga tidak terlepas dari peran agama Islam yang menjadi motor penggerak pendidikan.
Kondisi Pendidikan Lingga Sekarang
Lingga yang pernah menjadi pusat kerajaan Melayu masa lampau, setidaknya adalah daerah yang sudah mempunyai peradaban dengan kondisi social, kultur dan pendidikan yang sudah tertata meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu madrasah. Perkembangan pendidikan di kabupaten Lingga secara fisik mungkin sudah bisa dikatakan ada kemajuan. Kemajuan tersebut dapat dilihat dari pembangunan sarana dan prasarana pendidikan seperti penambahan atau perbaikan gedung sekolah. Sampai saat ini di kabupaten Lingga telah berdiri sebanyak 10 SMA sederajad (MA, dan SMK), 27 SMP sederajad (MTs) dan 112 SD sederajad (MIN/MIS). Disamping itu juga terdapat pembangunan sarana pendukungnya seperti laboratorium computer yang disertai dengan jaringan internet pada beberapa sekolah. Namun penulis memandang ada beberapa hal penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih oleh pemerintah daerah disamping pembangunan fisik pendidikan. Pembangunan fisik itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah perbaikan kualitas pendidikan secara nyata dalam hal prestasi belajar siswa. Kualitas pendidikan di Lingga masih tergolong tertinggal jika dibandingkan dengan kabupaten lain dalam skup provinsi Kepulauan Riau, yaitu peringkat dua di atas kabupaten Natuna yang tergolong kabupaten dengan predikat paling tertinggal se-provinsi. Itu dalam lingkup provinsi Kepulauan Riau, dalam lingkup nasional kabupaten Lingga tidak nampak batang hidungnya alias tidak masuk hitungan.
Beginilah seharusnya Pendidikan Lingga ke depan…
Realitas pendidikan di tanah tercinta zuriat kite semue, Lingga, Bunda Tanah Melayu demikianlah adanya. Kita sadari banyak hal yang melatar belakangi kodisi tersebut. Menurut analisis penulis, keberhasilan pendidikan di Lingga baru tercapai apabila terpenuhi beberapa indikator berikut dalam dunia pendidikan kita, yaitu adanya realisasi anggaran untuk pendidikan dengan alokasi 20%, adanya perhatian terhadap kualitas guru, perbaikan cara mengajar guru, perbaikan kondisi ekonomi guru, terhindarnya para elit pendidikan dan praktisinya dari praktek komersialisasi pendidikan dan menyesuaikan konsep pendidikan nasional sesuai konsep dan budaya lokal.
Indikator yang pertama adalah adanya realisasi anggaran pendidikan dengan alokasi dana untuk pendidikan minimal 20%. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah kita harus memanfaatkan dana tersebut semaksimal mungkin untuk sektor nonfisik pendidikan. Kita ketahui bersama bahwa anggaran dana pendidikan selama ini banyak dialokasikan untuk sektor fisik, sementara untuk sektor pengembangan pendidikan nonfisik tidak begitu tersentuh. Yang saya maksudkan dengan sektor nonfisik ini adalah pengembangan kualitas insan pendidikan, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, tata usaha, komite sekolah dan orang tua siswa. Optimalisasi peran orang tua dalam proses pendidikan dalam bentuk koordinasi dengan pihak guru mesti sangat ditekankan. Biarkan mereka ikut terlibat dan memikirkan proses pendidikan anak-anaknya. Bagaimana caranya? Alokasikan dana untuk hal ini. Adakan pertemuan intensif antara pihak guru, sekolah dan komite sekolah dengan orang tua siswa untuk membangun persepsi orang tua akan pentingnya peran mereka, kalau perlu ikutkan mereka dalam pelatihan-pelatihan khusus untuk memberi pemahaman bahwa pendidikan anak adalah tanggaung jawab mereka juga. Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang memadukan peran beberapa elemen tersebut di atas.
Yang kedua, adanya perhatian terhadap kualitas guru, perbaikan kondisi ekonomi guru dan perbaikan cara mengajar guru. Tiga hal yang saling kait-mengait, tak dapat dipisahkan satu sama lain. Perbaikan kualitas guru sangat tergantung dengan tercukupinya kebutuhan guru sehingga memungkinkan ia untuk tidak mencari tambahan penghasilan diluar lantaran kebutuhan kesehariannya tidak tercukupi. Bukan kesalahan guru semata jika akhirnya tidak begitu konsentrasi terhadap tugas mengajarnya sehingga tugas sebagai seorang guru menjadi terabaikan, karena sesungguhnya ia punya tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga atau penopang penghasilan suami untuk menghidupi keluarga. Dengan terpenuhinya kebutuhan ekonomi guru, maka diharapkan adanya perbaikan cara mengajar guru dari mengajar dengan asal-asalan ( asal masuk kelas, asal siswa tidak ribut, asal dapat gaji) menjadi mengajar dengan mengoptimalkan segala kemampuan yang ada. Dalam konsep Amir Tengku Ramli (seorang trainer dan motivator pendidikan), seorang guru harus mengajar dengan mengubah paradigma berfikir dari paradigma to have ( mengutamakan kebutuhan materi) menjadi to be ( mengutamakan kebutuhan nonmateri) dalam mengajar.
Yang ketiga, terhindarnya para elit pendidikan dan praktisinya dari praktek komersialisasi pendidikan. Ini sangat berbahaya. Tugas pemerintah adalah bagaimana semua anak negeri ini bisa mengecap pendidikan, bukan malah menjadikan pendidikan hanya untuk orang-orang yang berduit saja dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari “bisnis” pendidikan. Cukuplah beberapa kasus yang terjadi memberikan pelajaran kepada bangsa ini bahwa sangat banyak anak negeri ini yang masih belum terpenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Seharusnya para elit dan praktisi pendidikan menyadari hal ini, mereka menduduki amanah ini bukan untuk menyusahkan rakyat namun untuk memudahkan. Bukan tidak mungkin menyelenggarakan pendidikan murah di negeri ini, apalagi di kabupaten Lingga. Kita akui pendidikan gratis itu memang nonsen, tapi pendidikan murah itu realistis. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan perhatian lebih kepada anak Negeri Bunda Tanah Melayu untuk tetap menikmati pendidikan, misalnya dengan memberikan beasiswa kepada yang memang berhak mendapatkannya, menyediakan beasiswa untuk anak yang kurang mampu dan mendata serta memberikan keringanan bagi siswa yang orang tuanya tergolong berekonomi lemah.
Keempat, menyesuaikan konsep pendidikan nasional sesuai konsep dan budaya local Lingga. Artinya, kembalikan jati diri pendidikan di Kabupaten Lingga kepada ruh asalnya yaitu pendidikan yang memberikan porsi besar terhadap pendidikan agama dan akhlak yang sesuai dengan budaya Melayu kepada siswa. Islam sebagai identitas kita tidak boleh kita tinggalkan. Dalam hal ini penulis ingin memberi nama pada konsep ini dengan konsep pendidikan berbasis moral-spiritual. Mengapa Moral? karena budaya kita adalah budaya yang sarat dengan nilai-nilai moral sebagai penghias diri dan pencantik pribadi. Dan mengapa spriritual?, karena darinya segala kebaikan bermula. Darinya manusia bisa menemukan nilai dari kemanusiaannya, darinya manusia bisa memahami tujuan hidupnya, tujuan belajarnya dan kemana ia akan kembali. Darinya seorang yang berilmu menemukan hakikat keberilmuwannya. Rasulullah Saw. mangatakan bahwa jika Allah ingin memberikan kebaikan kepada hamba-Nya, maka ia akan memberikan hamba-Nya kefahaman terhadap agama.
Mengapa pada masa Nabi, kemudian pada masa shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in Islam mampu mampu menguasai lebih kurang tiga perempat dari bumi ini? Mengapa sejarah mencatat bahwa banyak sekali ilmuan besar dunia ternyata seorang muslim? Jawabnya adalah karena mereka faham agama dan mereka mengamalkan agama. Hari ini sudah selayaknya menoleh ke belakang, menoleh kepada identitas kita yaitu Islam. Tidak ada salahnya kita melihat ke belakang karena sejarah adalah guru kehidupan. Mari kita kembali kepada pendidikan yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan keislaman kepada anak negeri Bunda Tanah Melayu, tidak hanya dua jam seminggu.
Selain itu penyesuaian konsep dan tujuan pendidikan terhadap kondisi geografis Lingga juga perlu diperhatikan. Dalam hal ini boleh dikatakan kabupaten Lingga adalah kabupaten yang kaya dengan hasil alamnya. Kita pernah jaya dengan hasil timah yang saya yakin persediaan timah itu masih banyak. Kita juga tergolong daerah yang kaya dengan hasil laut. Dalam hal ini pemerintah bisa saja membangun SMK yang konsentrasinya terkait dengan kedua hal tersebut yaitu pertambangan dan pemanfaatan hasil laut. Tentunya mengkonsentrasikan pencetakan SDM yang sesuai dengan kebutuhan daerah adalah lebih tepat untuk Kabupaten Lingga ketimbang melaksanakan pendidikan dengan menelan mentah-mentah konsep yang ditawaran pemerintah. Pemerintah diharapkan lebih kreatif dalam memperhatikan kebutuhan daerah sehingga pengembangan daerah dapat lebih dioptimalkan oleh Anak Jati Lingga sendiri.
*) Penulis adalah Sekretaris Umum Ikatan Mahasiswa Kabupaten Lingga
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti menghadapi berbagai masalah yang sangat banyak dari segala aspek. Dan dalam keseharian kita mengenal yang namanya IQ (Intellegence Quotient) yang merupakan cara untuk membuat suatu penilaian kecerdasan seseorang dengan parameter verbal dan numerical yang dipercaya sangat menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Kemudian teori itu kemudian tumbang dan dibantah dengan adanya penilaian EQ (Emotional Quotient) yang merupakan parameter emosional seseorang dalam penentuan kesuksesannya dihari mendatang,
Kedua segi diatas adalah suatu parameter yang dipercaya dan tidak menyinggung persoalan sisi religi dan spiritual sama sekali, yang tidak dapat ditinggalkan dalam semua segi keduniawian. Kalau IQ seseorang itu dari mulai dia kecil tidak dapat ditingkatkan, tetapi kalau EQ seseorang dapat dilatih dan ditingkatkan dengan cara-cara tertentu.
Sementara itu didalam tingkat permasalahan kehidupan yang semakin tinggi, beban hidup yang semakin berat, dan segala pendukung kehidupan yang semakin kompleks, maka sekarang orang baru mulai melirik sisi religi dan spiritual untuk mengisi kekosongan jiwa mereka karena permasalahan diatas. Maka dari itu kemudian kita mengenal adanya ESQ (Emotional Spiritual Quotient) yang merupakan pelatihan untuk meningkatkan tingkat EQ seseorang dengan tidak meninggalkan sisi religi dan spiritualitasnya.
Dalam proses pelatihan peningkatan tingkat EQ yang berhubungan dengan sisi religi dan spiritualitas, maka proses terseebut disebut juga sebagai proses penjernihan emosi atau dalam istilah asing lebih dikenal sebagai Zero Mind Process (selanjutnya disingkat ZMP). Maka dalam pembahasan kali ini, penulis akan membahas beberapa penjelasan singkat langkah-langkah yang dapat dicapai untuk menuju proses penjernihan tersebut, yang juga dapat digunakan sebagai prinsip seorang pendidik dalam interaksinya terhadap peserta didik dan dalam proses belajar mengajar. Dan juga beberapa penjelasan tentang kegunaan suara hati atau kebersihan hati (yang merupakan hasil dari proses ZMP) dalam kaitannya proses belajar mengajar di kelas maupun diluar kelas.
A.Hakikat Zero Mind Process (ZMP)
Dalam proses penjernihan emosi (ZMP), yang pertama-tama harus dilakukan adalah mendahulukan pikiran obyektif yaitu dengan menjernihkan pikiran dari gangguan hama yang mempengaruhi penilaian secara subyektif. Dalam penilaian terhadap sesuatu adalah dengan menggunakan suara hati yang terdalam sebagai sumber kebenaran, yang merupakan karunia Allah SWT.
Jikalau dalam proses ini berhasil dilakukan maka yang terjadi adalah pikiran-pikiran yang jernih dan bersih atau dapat disebut sebagai God Spot atau fitrah, yaitu kembali pada hati dan pikiran yang bersifat merdeka serta bebas dari belenggu.
Maka dari itu yang dimaksud dengan proses penjernihan emosi (Zero Mind Procees) adalah proses dimana semua emosi dan pikiran kita dinol-kan dari belenggu yang menutupi potensi manusia agar mampu mengeluarkan Spiritual Power (kekuatan spiritual) yang dimilikinya. Hal-hal yang menutupi ini disebut sebagai belenggu. Zero Mind Proses (ZMP) adalah suatu upaya untuk mengenali dan menghapus apa yang menutupi potensi dalam God Spot. Belenggu-belenggu (ada 7 hal) tersebut akan diterangkan penulis pada bagian selanjutnya..
Bisa dikatakan langkah pengenalan hama atau belenggu dan pembersihan God-Spot itulah yang disebut Zero Mind Process atau pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci.
B.Langkah-langkah dalam ZMP
Dalam ESQ, langkah -langkah untuk menuju kebersihan jiwa (Zero Mind) dalam rangka meningkatkan tingkat emotional dan spiritual yg lebih tinggi dapat dilatih dengan 7 (tujuh) langkah sebagai berikut :
1. Hindari prasangka buruk, dan selalu mengupayakan berprasangka baik (positive thinking ).
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."
Pekerjaan yang didasari pada prasangka yang buruk akan berbuah kegagalan. Namun sebaliknya apabila dalam pekerjaan selalu didasari pada prasangka yang baik, maka akan berbuah keberhasilan yang baik pula.
Dalam hal prasangka, sesungguhnya dibagi menjadi prasangka positif dan negative (positive thinking dan negative thinking). Maka dalam prasangka yang pertama, positif, selain berbuah keberhasilan, juga berbuah saling percaya antara satu dengan yang lain, saling mendukung, adanya hubungan kooperatif, terbuka, dan dapat menghasilkan performa yang terbaik dalam hidupnya.
Lain halnya dengan negatif, adalah kebalikan dari positif. Yaitu akan terlahir sikap defensif tertutup antar sesama, kemudian cenderung menahan informasi, tidak mau bekerja sama dengan yang lain, juga tidak mampu bersinergi dengan orang lain, kinerja dalam kesehariannya akan turun yang mengakibatkan turunnya performa, bahkan akan tersingkir ditengah pergaulan sosialnya.
2. Tinggalkan prinsip hidup yang salah, berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Suci.
Dengan adanya prinsip hidup yang benar, akan mempengaruhi sikap seseoran terhadap orang lain pula. Prinsip yang tidak fitrah atau prinsip hidup yang salah akan berakibat terhadap kegagalan, lahiriah atau bathiniah.
Hanya berprinsip pada sesuatu yang abadi dan kekal akan mampu membawa manusia kearah kebahagiaan hakiki yaitu berprinsip pada Allah SWT Yang maha Suci.
3. Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang membelenggu pikiran dan selalu berpikirlah merdeka.
Dengan adanya pengalaman dalam kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang, yang berakibat pada terciptanya sosok manusia hasil pembentukan lingkungan sosialnya.
Maka pengalaman-pengalaman hidup sangat berperan dalam menciptakan pemikiran pemikiran seseorang, sehingga membentuk paradigma yang melekat didalam pikirannya yang mana paradigma tersebut dijadikan sebagai tolak ukur bagi dirinya, atau untuk menilai lingkungannya.
Hal ini jelas akan sangat merugikan dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Ini akan membatasi cara berpikir seseorang yang menyebabkan ia akan melihat segala sesuatu dengan subyektif, bukan melihat sesuatu secara riil dan obyektif. Oleh karena itu prinsip yang benar adalah dengan membebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berfikirlah merdeka.
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta."
4. Dengarkan semua suara hati, berpikirlah melingkar (circular thinking) sebelum menentukan kepentingan dan prioritas, dan jadilah bijaksana.
Kepentingan lebih bersifat mikro (diri sendiri), sedangkan prioritas bersifat makro (universe) yaitu mengarahkan untuk melaksanakan hal yang tepat, dan yang benar. Jika kepentingan umum yang lebih dikedepankan maka prinsip yang benar akan melahirkan juga prioritas apa yang akan didahulukan. Pada intinya prinsip akan melahirkan prioritas. Dan orang yang bijaksana akan mengambil suatu keputusan yang mempertimbangkan semua aspek sebagai satu kesatuan tauhid atau prinsip keesaan.
5. Berpikirlah secara integrative dan holistik dengan melihat semua sudut pandang secara adil berdasarkan semua suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna.
Adalah berpikir secara prinsip keesaan dan secara satu kesatuan pikiran dan tindakan. Setelah itu agar dapat berprinsip dan mengingat sifat-sifat Allah pada Asmaul Husna.
6. Periksa pikiran kita terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu. Jangan melihat segala sesuatu karena pikiran, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.
Dalam sebuah penilaian terhadap sesuatu, kita sering dihadapkan pada masalah perbandingan yang sesuai dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya dan bayangan yang ada di alam pikirnya tersebut. Karena. Paradigma penilaian dalam pikiran kita begitu mudah berubah berdasarkan pada keteguhan pikiran.
7. Ingatlah bahwa semua kebenaran bersumber dari Allah SWT, dan jangan terbelenggu.
Semua kebenaran pada akhirnya, kelak akan tiba di satu sumber, baik secara sadar atau tanpa disadari. Semua akan mengakui kebenaran Allah SWT dan Al-Qur'an serta ajaran Nabi Muhammad SAW pada akhirnya. Dan bahwa suara hati sebenarnya dorongan yang berasal dari sifat-sifat ke-Ilahian.
Ketujuh sifat diatas, diharapkan dimiliki oleh setiap individu dari kita, bahkan seorang gurupun harus memiliki sifat-sifat diatas guna menjadikan pedoman dan landasan dalam berpikir obyektif dan secara jernih dengan didahului oleh kemampuan mengenali factor-faktor yang mempengaruhinya. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengembalikan manusia pada fitrah hatinya atau "God Spot". Sehingga manusia- yang disini adalah guru, akan mampu melihat dengan "mata hati", mampu memilih dengan tepat, memprioritaskan dengan benar. Dari cara melihat yang obyektif ini maka keputusan yang diambil akan benar-benar dengan cara yang adil dan bijaksana sesuia denga fitrah dan suara hati.
C.Kebersihan Hati
Biarkan hati berbicara walau tanpa suara, karena sesungguhnya hati yang bersih akan berbicara kebenaran. Namun bila hati terkotori, tak ada bisikan kebenaran.
Bagi setiap insan, hati adalah pusat kontrol diri atau pimpinan bagi diri di dunia yang fana ini. karena itu, agar diri tetap berada pada jalan kebenaran dibutuhkan pimpinan yang baik.
Pimpinan yang baik akan membimbing kita pada jalan Allah dan rasul-Nya serta pimpinan yang buruk akan membawa kita pada keinginan nafsu semata.
Hati itu bagaikan cermin, jikalau bersih akan memantulkan kesempurnaan diri kita, tetapi jikalau kotor tiada muncul yang lain kecuali keburukan semata. Karenanya, hati harus senantiasa dibersihkan. Bersihnya hati akan senantiasa memantulkan cahaya kebenaran.
Ary Ginanjar dalam ESQ meyakini bahwa semua jawaban suara hati kita tentang nilai-nilai kebenaran sama persis dengan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur'an, yakni yang terkumpul dalam Asmaul Husna. Sifat-sifat Allah tersebut dapat dijadikan barometer untuk memastikan bahwa suara hati kita terbebas dari nafsu dan bisikan syetan. Dan barometer tersebut dapat digunakan oleh para guru saat mendengarkan suara hatinya.
Untuk dapat mendengarkan suara hati tersebut, kita harus berpusat pada hati dalam melakukan aktivitas pengajaran. Maksudnya adalah bahwa segala sesuatu yang menyangkut keputusan dan tindakan pengajaran kita senantiasa diselaraskan dengan suara hati kita. Yakinilah bahwa prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diyakini sebagai pusat kehidupan memiliki daya magnetis dengan kebenaran suara hati nurani. Bila hati sudah memiliki kekuatan dan cahaya, segala bisikannya adalah suara prinsip-prinsip kebenaran dan nilai-nilai Ilahiyah. Inilah yang akan membimbing kita dalam keputusan-keputusan yang kita buat serta menjadi sumber motivasi dan rujukan untuk bertindak dan beraktivitas dalam dunia kehidupan dan pengajaran. Suara ini akan mengarahkan kita pada pilihan-pilihan, baik secara pribadi, keluarga, dunia profesi, mitra kerja, dunia bisnis, aktivitas ritual, sosial, maupun untuk kesenangan.
Menemukan suara hati dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut;
Bila mendapatkan masalah segera kembalikan pada hati, biarkan semua hal terucapkan dalam hati, dengarlah yagn sesuai dengan sifat Asmaul Husna dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hakiki.
Saat berdzikir dan beristigfar, maka akan muncul suara hati secara tiba-tiba, maka dengarkanlah.
Suara hati merupakan pusat bisikan kebenaran. Hati akan selalu cenderung pada perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hakiki. Karena itu, bila manusia hendak berbuat tidak baik, pasti hati nuraninya akan melarang melakukan itu.
Bila hati sudah menjadi pusat dari prinsip dan nilai-nilai hakiki, akan muncul hal-hal sebagai berikut:
Tumbuh kepribadian dengan sifat-sifat Ilahiyah
Kepribadian dengan sifat-sifat Ilahiyah akan membawa guru pada sifat belas kasih kepada peserta didik dan memperlakukannya sebagai anak. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku bagi kalian adalah bagaikan bapak terhadap anaknya (prinsip meyakini pembawa risalah kebenaran)". Prinsip keteladanan menjadikan proses mengajar bagian dari taqarrub kepada Allah. Juga tidak merasa berjasa pada peserta didik. Sekalipun jasa itu besar, memandang mereka juga memiliki jasa karena sudah mengondisikan hatinya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menanamkan ilmu kepadanya.
Kalau berbicara tentang suara hati, adalah bisikan yang datang dari hati nurani yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hakiki. Energi spiritual adalah kekuatan atau dorongan yang datang dari hati sanubari yang sudah tersucikan dari nafsu dan amarah. Suara hati yang disertai energi spiritual ini melahirkan kepribadian ilahi.
Pemanfaatan panca-indera, otak kiri, otak kanan, dan hati secara optimal dan proporsional.
Pemanfaatan panca-indera, otka kiri, otak kanan, dan hati secara optimal dan proporsional memberikan tugas pada guru untuk tidak meninggalkan nasihat memacu prestasi peserta didik sesuai dengan kemampuan dan bakat, dan sebaliknya meninggalkan kesombongan karena merasa diri lebih unggul disbanding peserta didik lain. Guru tidak mencela sesame gur dan pelajaran berlainan karena semua ilmu bersumber dari satu sumber risalah.
Tercipta pengajaran sepenuh hati, yang bebas dari energi negative, nafsu, dan amarah.
Adapun terciptanya pengajaran sepenuh hati adalah upaya guru untuk memberikan pengajaran sesuai dengan proporsi kemampuan peserta didik, mengajar secara baik, dan menarik minat peserta didik.
D.Kesimpulan
Maka dari itu yang dimaksud dengan proses penjernihan emosi (Zero Mind Procees) adalah proses dimana semua emosi dan pikiran kita dinol-kan dari belenggu yang menutupi potensi manusia agar mampu mengeluarkan Spiritual Power (kekuatan spiritual) yang dimilikinya.
Dalam ESQ, langkah -langkah untuk menuju kebersihan jiwa (Zero Mind) dalam rangka meningkatkan tingkat emotional dan spiritual yg lebih tinggi dapat dilatih dengan 7 (tujuh) langkah (yang telah diterangkan pada penjelasan sebelumnya). Dari proses tersebut diharapkan dapat dijadikan pedoman dan prinsip oleh setiap pendidik dalam proses belajar maupun pengajaran terhadap peserta didik.
Untuk dapat mendengarkan suara hati tersebut, kita sebagai seorang guru harus berpusat pada hati dalam melakukan aktivitas pengajaran. Maksudnya adalah bahwa segala sesuatu yang menyangkut keputusan dan tindakan pengajaran kita senantiasa diselaraskan dengan suara hati kita. Yakinilah bahwa prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diyakini sebagai pusat kehidupan memiliki daya magnetis dengan kebenaran suara hati nurani.
Dari sinilah semua permasalahan seorang pendidik terhadap peserta didik maupun terhadap proses belajar mengajar, yang mana semua harus dikembalikan pada hati agar kita menjadi seorang pendidik yang benar-benar profesional dengan kekurangan yang kita miliki.
Demikianlah pembahasan dari penulis mengenai Zero Mind Process (ZMP) sebagai prinsip utama yang harus dimiliki setiap individu, terutama seorang pendidik, dengan kekurangan dan kelebihan dari penulis semoga pembahasan kali ini menjadi ishlah dan bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi teman-teman semua pada umumnya.
Referensi
Agustian, Ary Ginanjar. 2004. ESQ: Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Jakarta: Penerbit Arga.
Al Qur'an dan Terjemahan. Penerbit Departemen Agama Republik Indonesia.
Rahmat, Jalaluddin. 2005. Belajar Cerdas. Bandung: Mizan Media
Ramly, Amir Tengku dan Erlin Trisyulianti. 2006. Pumping Teacher: memompa teknik pengajaran menjadi guru kaya. Tangerang: PT. AgroMedia Pustaka.
manusia yang didalam dirinya sudah tertanam ZMP, dia akan siap untuk menghadapi berbagai rintangan karena mampu bersikap positif dan akan tanggap terhadap suatu peluang serta bisa menerima pemikiran baru tanpa dipengaruhi dogma yang membelenggu. Beberapa cirinya adalah merdeka dalam berpikir, dan hasilnya akan tercipta pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka atau fleksibel, mampu berpikir jernih.
Q.S Surat Al An'aam Ayat 116
Ary Ginanjar Agustian, ESQ: Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual, (Jakarta: Penerbit Arga, 2004), hal.17
ibid. hal. 21
ibid. hal 24
Q.S. Surat Al Baqarah ayat 10.
Maksud dari berpikir melingkar adalah bahwa cara berpikir yang selalu dikaitkan dengan adanya sifat Allah Asmaul Husna (99 Thinking Hats) atau thawaf suara hati.
Ary Ginanjar Agustian, Op. Cit., hal.27
Ibid. Hal. 41
Ibid. Hal. 46
Amir Tengku Ramly dan Erlin Trisyulianti, Pumping Teacher: memompa teknik pengajaran menjadi guru kaya. (Tangerang: PT. AgroMedia Pustaka, 2006), hal. 96.
Amir Tengku Ramly dan Erlin Trisyulianti, Op. Cit., hal.100
Ibid. Hal. 99
Jalaluddin Rahmat, Belajar Cerdas, (Bandung: Mizan Media, 2005), hal .